....

Yuni Septiani. S.Pd.

 

 

SEJARAH

July 19th, 2008 by Yuni Septiani, S.Pd

BAB 1 ------ BAB 2 ----- BAB 3 ----- BAB 4

BAB. I

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP SEJARAH

  1. PENGERTIAN SEJARAH

 

Secara etimologi, sejarah berasal dari serapan bahasa Arab yaitu syajaroh yang berarti pohon. Bagian-bagian dari pohon itu menunjukan adanya  aspek kehidupan yang saling berhubungan, yang membuat pohon itu menjadi hidup. Kita lihat bagian dari pohon itu terdiri dari akar, batang, dahan, ranting, daun dan buah. Dari gambaran pohon terdapat gerak yang bersifat aktif yang terus menerus berubah sesuai dengan waktu dan ruang, karena sejarah memiliki konsep dasar yaitu konsep perubahan, konsep tentang waktu, dan konsep kontinuitas dan diskontinuitas.
Jika kita hubungkan pengertian syajaroh dengan kehidupan manusia maka dapat mengandung arti bahwa manusia itu hidup dan terus bergerak seiring dengan perjalanan waktu dan tempat atau ruang dimana manusia itu berada. Kehidupan bukanlah sesuatu yang terus menerus  tumbuh dan berkembang. Sebagai contoh, manusia dalam kehidupannya mengalami fase-fase tertentu yaitu alam rahim, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Fase-fase tersebut menunjukan adanya kesinambungan dalam kehidupan manusia. Kesinambungan itu terjadi karena manusia diikat oleh waktu dan ruang. Ada masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Masa lalu akan menentukan masa sekarang, dan masa sekarang akan menentukan masa depan.

Kata-kata arab lainnya yang memiliki arti yang hampir sama dengan Syajaroh antara lain silsilah, riwayat atau hikayat, kisah dan tarikh. Silsilah menunjuk pada keluarga dan nenek moyang. Pada masa kerajaan-kerajaan masa lampau sering dibuat silsilah keluarga raja mulai  dari siapa pendiri kerajaan sampai pada raja yang sedang berkuasa.

Riwayat atau hikayat dikaitkan  dengan cerita  yang diambil dari kehidupan, baik perorangan maupun keluarga. Riwayat dapat berarti laporan atau cerita  tentang kejadian. Hikayat yaitu cerita tentang kehidupan yang menjadikan manusia sebagai objeknya atau disebut dengan biografi. Jika objek cerita itu tentang kehidupan seseorang atau diri sendiri maka disebut autobiografi. Tujuan dari autobiografi ini antara lain adalah agar masyarakat dapat mengetahui  riwayat hidup dan perjuangannya.
Di Indonesia, kata-kata yang artinya serupa dengan sejarah antara lain babad, tambo, pustaka, dan cerita. Babad dalam bahasa jawa berarti memangkas. Hasil dari pembabadan ini adalah suasana terang. Maka dalam hal ini sejarah itu bertugas memberikan penerangan tentang suatu keadaan.
Ada pula dalam bahasa asing yaitu history/historia, yang berasal dari kata history yang berarti ilmu atau dapat diterjemahkan orang pandai. Dalam perkembangannya, kata historia  berarti pengertian tentang gejala-gejala  terutama yang berkaitan dengan kehidupan manusia secara kronologis.
Dengan demikian dari etimologi, sejarah itu dapat diartikan sesuatu yang terkait dengan ilmu, terkait dengan perkembangan  suatu keluarga atau masyarakat, dan merupakan sesuatu yang telah terjadi atau masa lampau umat manusia. Untuk dapat memberikan gambaran  tentang pengertian sejarah secara lengkap, para ahli menjelaskan beberapa definisi antara lain :

  1. Herodotus : Sejarah tidak berkembang kearah depan dengan tujuan pasti melainkan bergerak seperti garis lingkaran yang tinggi rendahnya diakibatkan oleh keadaan manusia.
  2. Ibnu Khaldun : Sejarah adalah catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia dan tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat itu. Lebih jauh ia mambagi pengertian sejarah dari dua sisi : sisi luar dan sisi dalam. Dari sisi luar dijelaskan bahwa sejarah merupakan perputaran waktu, rangkaian peristiwa dan pergantian kekuasaan. Sedangkan dari sisi dalam, sejarah adalah sesuatu penalaran kritis dan usaha yang cermat untuk mencari kebenaran, suatu penjelasan yang cerdas tentang sebab akibat, tentang asal-usul segala sesuatu, dan suatu pengetahuan yang mendalam tentang mengapa serta bagaimana peristiwa itu terjadi.
  3. R. Moh. Ali : menerangkan bahwa sejarah adalah keseluruhan perubahan dan kejadian yang benar-benar telah terjadi. Sejarah adalah ilmu yang menyelidiki perubahan yang benar-benar terjadi pada masa lampau.
  4. Robert V. Daniels mendefinisikan sejarah sebagai kenangan dari tumpuan masa silam. Sejarah yang dimaksud adalah  sejarah manusia. Manusia merupakan pelaku sejarah. Kemampuan yang dimiliki manusia adalah kemampuan untuk menangkap kejadian-kejadian yang ada disekelilingnya. Hasil dari tangkapan tersebut akan menjadi ingatan atau memori dalam dirinya. Dan memori ini akan menjadi sumber sejarah.
  5. Robin Winks menyatakan sejarah adalah studi tentang manusia dalam kehidupan masyarakat manusia, perubahan masyarakat yang terus menerus merekam ide-ide yang membatasi aksi-aksi masyarakat, dan merekam kondisi-kondisi material yang telah membantu atau merintangi perkembangannya.

Berdasakan definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah studi tentang :

    1. manusia baik sebagai individu maupun kelompok
    2. manusia dalam konteks waktu
    3. manusia dalam kehidupan masyarakat
    4. masyarakat yang senantiasa berubah
    5. kejadian masa lalu manusia yang dapat memberikan pelajaran pada masa kini dan masa yang akan datang.

Cakupan kajian sejarah cukup luas dan kompleks. Sejarah adalah cabang ilmu yang mengkaji secara sistematis keseluruhan  perkembangan proses perubahan dinamika kehidupan masyarakat manusia dengan segala aspek kehidupannya yang terjadi di masa lampau. Masa lampau itu bukan sesuatu yang final, terhenti dan tertutup, tetapi bersifat terbuka dan berkesinambungan. Sehingga sejarah itu merupakan suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau yang dapat digunakan sebagai modal bertindak dimasa sekarang dan menjadi acuan untuk perencanaan masa yang akan datang.
Dalam penyusunannya, ilmu sejarah dibantu oleh ilmu-ilmu lain, seperti Paleontologi ( ilmu yang mempelajari  tentang kehidupan pada zaman tua/purbakala), Arkeologi (ilmu yang mempelajari peninggalan-peninggalan sejarah dan purbakala yang digunakan untuk merekonstruksi atau menyusun kembali kehidupan manusia  pada masa lampau), Antropologi Budaya( ilmu yang mempelajari  manusia dan kebudayaannya). Geologi ( ilmu yang mempelajari tentang lapisan bumi). Palaeoantropologi ( cabang ilmu antropologi yang mempelajari asal usul terjadinya perkembangan manusia dengan objek penelitiannya berupa sisa-sisa fosil manusia purba). Botani (ilmu yang menyelidiki fosil-fosil serbuk bunga untuk mengenali tetumbuhan masa lampau, sekaligus mengambil kesimpulan tentang iklim dimasa itu)., Fisika  (terutama fisika atom, yaitu ilmu yang digunakan untuk menentukan waktu secara cermat dengan  mengukur hasil pelapukan isotop unsur radio aktif tertentu), Palaeologi  (ilmu yang memperlajari tentang lingkungan alam zaman purba), Palaeontologi  (ilmu yang mempelajari tentang fosil), Geografi (ilmu yang mempelajari tentang permukaan bumi, iklim, penduduk, flora, fauna, serta hasil bumi), Filologi ( ilmu yang mempelajari tentang kebudayaan berdasarkan bahasa dan kesusastraan suatu bangsa), Numismatik (ilmu yang meneliti tentang mata uang), Epigrafi (ilmu tentang tulisan kuno), Geologi ( ilmu tentang komposis, struktur, dan sejarah bumi), Topografi (ilmu tentang keadaan muka bumi), dan lain-lain.

 

  1. KONSEP DAN UNSUR SEJARAH       

1. Konsep dasar Sejarah

Diatas telah disebutkan bahwa sejarah  memiliki tiga konsep, yaitu konsep perubahan, konsep waktu, dan konsep kontinuitas. Perubahan yaitu ketidaksamaan dari suatu keadaan yang satu dengan yang lain, dari waktu yang satu ke waktu yang lain. Misalnya  perubahan dari masa Orde Baru ke masa Reformasi. Perubahan yang termasuk kategori peristiwa sejarah ialah perubahan yang memiliki makna penting bagi kehidupan manusia. Tidak semua perubahan tercatat sebagai peristiwa sejarah.
Konsep tentang waktu dimaksudkan bahwa setiap peristiwa sejarah tidak mungkin sebagai sesuatu yang datang dengan tiba-tiba, tetapi akan selalu berada dalam lingkaran waktu. Aspek waktu ini akan sangat terasa jika kita mencermati suatu proses perubahan atau proses pembuatan sesuatu. Misalnya pembuatan lemari. Mulai dari pemotongan kayu yang diolah menjadi bagian-bagian bingkai, dinding, pintu hingga menjadi sebuah lemari. Dalam proses ini, waktu menjadi aspek yang sangat penting. Bahkan waktu juga menjadi unsur penting dalam sejarah. Sejarah adalah peristiwa dalam dimensi waktu, masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.
Konsep kontinuitas dan diskontinuitas merupakan konsep penting dalam sejarah. Konsep ini berkaitan erat dengan konsep perubahan dan perkembangan. Kontinuitas adalah manifestasi dari suatu proses perkembangan aspek kehidupan masyarakat yang terus menerus, sekalipun situasi dan kondisi berubah. Misalnya, walupun kita sudah merdeka tetapi kita masih banyak menggunakan hukum kolonial. Sedangkan diskontinuitas adalah proses perubahan atau perkembangan aspek kehidupan masyarakat yang tidak berlanjut atau bukan merupakan kelanjutan dari masa sebelumnya.

2. Unsur-unsur Sejarah

Didalam sejarah terdapat tiga unsur penting, yaitu :

  1. Manusia, yang merupakan unsur sentral atau pemeran utama. Karena itu manusia sangat menentukan didalam suatu peristiwa. Sejarah adalah sejarahnya manusia. Peristiwa yang dikajipun adalah peristiwa yang berkaitan dengan manusia. Peristiwa itu bisa berlangsung cepat (Revolusi) atau bisa berlangsung lama (Evolusi), bisa kompleks bisa juga sederhana, tergantung akal manusia dengan lingkungan  yang ada.
  2. Waktu, merupakan unsur yang penting. Sejarah adalah studi tentang aktivitas manusia dilihat dari kurun waktunya. Karena itu waktu menjadi unsur dan konsep dalam sejarah. Dari unsur waktu inilah maka didalam sejarah sifat kronologis menjadi sangat penting. Dari unsur waktu dan sifat kronologis didalam kajian sejarah dikenal adanya konsep periodisasi.
  3. Ruang, maksudnya adalah tempat terjadinya peristiwa. Jadi terkait dengan aspek geografis. Unsur ruang ini akan menjadikan pemahaman kita tentang peristiwa sejarah menjadi nyata.

Dari uraian diatas menunjukan bahwa setiap peristiwa sejarah tidak dapat lepas dari tiga unsur. Siapa pelakunya, kapan berlangsungnya, dan dimana kejadiannya.

  1. RUANG LINGKUP SEJARAH

Para sejarawan memberikan pemahaman mengenai sejarah dalam beberapa pengertian, yaitu :

    1. Sejarah sebagai peristiwa,

Sejarah sebagai peristiwa berarti suatu kejadian dimasa lampau yang sudah terjadi dan sekali jadi, serta tidak bisa diulang. Peristiwa adalah kenyataan yang bersifat absolut dan objektif. Karena kejadian itu benar-benar ada dan terjadi, maka peristiwa itu dianggap sebagai kenyataan sejarah.
        Semua yang terjadi pada masa lalu merupakan peristiwa atau kenyataan sejarah. Kenyataan sejarah itu pada dasarnya objektif, artinya suatu kenyataan peristiwa yang memang  benar-benar terjadi. Peristiwa itu dapat kita ketahui melalui bukti-bukti yang dapat menjadi saksi terhadap peristiwa  itu.
        Peristiwa yang dipelajari dalam sejarah adalah peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan manusia baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang multidimensi artinya gambaran peristiwa manusia dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan.
        Dalam sejarah, peristiwa itu terjadi diantaranya karena adanya hubungan sebab akibat, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Internal disebabkan factor yang ada dalam peristiwa itu sendiri, misalnya lahirnya pergerakan nasional di Indonesia pada awal abad ke-20 disebabkan oleh lahirnya kaum terpelajar sebagai dampak dari politik pendidikan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda melalui politik etis. Sedangkan secara eksternalnya pergerakan itu lahir disebabkan oleh kemenangan Jepang terhadap Rusia 1904 – 1905.
        Peristiwa sejarah merupakan suatu perubahan kehidupan. Sejarah pada hakekatnya adalah sebuah perubahan. Sejarah mempelajari aktifitas manusia dalam konteks waktu. Dengan melihat aspek waktu akan terlihat perubahan dalam kehidupan manusia. Perubahan kehidupan tersebut berupa aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya.
        Peristiwa sejarah terjadi dalam ruang yang beragam. Mulai dari yang lebih kecil sampai yang lebih luas. Dalam ruang yang kecil peristiwa sejarah dapat terjadi pada sebuah keluarga. Banyak hal yang bisa kita lihat tentang kehidupan keluarga. Peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga biasanya ditampilkan oleh tokoh biografi seseorang. Tokoh yang ditulis akan menceritakan peristiwa apa saja yang terjadi pada keluarga dan dirinya. Mulai dari peristiwa kelahiran, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, peristiwa  pernikahan dan peristiwa lainnya.

    1. Sejarah sebagai kisah,

Sejarah sebagai kisah adalah hasil rekonstruksi dari suatu peristiwa  oleh para sejarawan. Untuk mewujudkan sejarah sebagai kisah diperlukan fakta-fakta yang diperoleh dari sumber sejarah.  Wujud sejarah sebagai kisah berupa tulisan atau buku-buku sejarah yang dapat kita baca. Sejarah sebagai kisah dapat diulang-ulang, ditulis oleh siapa saja dan kapan saja. Dalam bentuk kisah sejarah inilah peristiwa masa lalu dihadirkan sebagai data sejarah. Sejarah sebagai kisah memiliki sifat subjektif.
        Sejarah sebagai kisah berupa narasi yang disusun dari memori, kesan, atau tafsiran manusia terhadap kejadian yang terjadi atau berlangsung pada masa lampau. Artinya, sejarah bersifat serba subjek. Hal ini berbeda dengan sejarah sebagai peristiwa yang bersifat objektif. Sejarah sebagai kisah dapat menjadi subjektif karena sejarah sebagai kisah adalah sejarah sebagaimana dituturkan, diceritakan oleh seseorang. Satu peristiwa yang sama jika dituturkan oleh dua orang atau lebih akan menghasilkan suatu penuturan cerita yang berbeda. Karena setiap orang akan memberikan tafsiran yang berbeda tentang peristiwa tersebut.
        Sejarah sebagai kisah dapat berbentuk lisan maupun tulisan. Misalnya jika kita menanyakan tentang bagaimana pengalaman atau tafsiran seseorang terhadap suatu peristiwa. Maka jawaban atau penuturan secara lisan orang tersebut itulah yang disebut sejarah sebagai kisah.
        Sedangkan bentuk tulisan sejarah sebagai kisah dapat berupa catatan-catatan atau buku-buku sejarah yang menceritakan tentang kejadian yang telah terjadi.
        Sejarah sebagai kisah bersifat subjektif karena dipengaruhi oleh interpretasi yang dilakukan oleh penulis. Subjektivitas tersebut terjadi lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor kepribadian dari sipenulis atau penutur sejarah. Faktor-faktor tersebut adalah :

    1. Kepentingan dan nilai-nilai;

penulis sejarah memiliki kepentingan dalam menulis atau menuturkan sejarah. Kepentingan itu bisa bersifat pribadi atau kelompok. Kepentingan pribadi akan banyak ditonjolkan dalam sebuah biografi. Seorang tokoh secara pribadi ingin menunjukan bahwa pribadinya mempunyai peran dalam sebuah peristiwa penting. Sedangkan kepentingan kelompok bergantung kepada jenis kelompoknya.
Nilai-nilai yang dimiliki seorang penulis pun akan mempengaruhi penulisan atau penuturan sejarah. Nilai-nilai itu berupa keyakinan yang bersumber dari agama atau moral etika, nasionalisme, dan lain-lain.

    1. Kelompok sosialnya;

Kelompok sosial maksudnya dilingkungan dimana ia bergaul dan berhubungan dengan orang-orang yang pekerjaannya atau statusnya sama. Penulisan sejarah biasanya dilakukan oleh ahli sejarah dan juga oleh penulis yang bukan sejarawan seperti wartawan, kolumnis, guru, dan lain-lain. Perbedaan latar belakang kelompok sosial akan memberikan perbedaan dalam penulisan sejarah.

    1. Perbendaharaan pengetahuan;

Seberapa jauh pengetahuan yang dimiliki penulis atau penutur sejarah akan mempengaruhi kisah sejarah. Pengetahuan yang dimaksud baik pengetahuan fakta maupun pengetahuan dari ilmu pengetahuan. Bagi  penulis atau penutur yang memiliki wawasan  yang luas akan mengkisahkan  suatu peristiwa dengan jelas dan lengkap. Seorang saksi yang langsung menyaksikan atau terlibat dalam suatu peristiwa akan memiliki pengetahuan fakta yang lebih banyak dibanding dengan orang yang tidak terlibat secara langsung, walaupun orang tersebut mengetahuinya.
Pengetahuan yang dimiliki oleh penulis sejarah akan mempengaruhi terhadap hasil tulisannya. Seorang penulis yang memiliki sumber-sumber atau fakta  sejarah yang banyak, maka ia akan menampilkan suatu kisah sejarah yang lebih mendalam.

    1. Kemampuan berbahasa;

Fakta yang ditemukan oleh penulis sejarah akan dikemukakan dalam bentuk bahasa. Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi. Walaupun  seseorang  memiliki sumber dan data yang lengkap, tetapi jika gaya  bahasanya sulit dimengerti oleh pembacanya, maka cerita sejarah itu akan terasa kering, tidak menarik.
Kemampuan berbahasa dalam menulis sejarah dapat berupa kemampuan berimajinasi, yaitu bagaimana seorang penulis merekonstruksi fakta atau bukti-bukti sejarah yang kemudian disusun dalam bentuk cerita sejarah yang dapat dibaca orang lain. Penulis sejarah harus mampu menghidupkan masa lalu. Masa lalu akan menjadi hidup jika seorang penulis mampu mengisahkan dengan gaya bahasa yang baik.

    1. Sejarah sebagai ilmu 

Sejarah sebagai ilmu merupakan suatu proses rekonstruksi dengan menggunakan metode sejarah. Sejarah sebagai ilmu sudah tentu memiliki objek, tujuan, dan metode 
        Sejarah dikatakan sebagai ilmu apabila sejarah memiliki syarat-syarat dari suatu ilmu. Adapun syarat-syarat ilmu adalah :

    1. ada masalah yang menjadi objek
    2. ada metode
    3. tersusun secara sistematis
    4. menggunakan pemikiran yang rasional
    5. kebenarannya bersifat objektif

Syarat-syarat tersebut dapat dipenuhi dalam sejarah. Hal ini dapat kita lihat sebagai berikut :

    1. Masalah yang menjadi objek kajian sejarah adalah kejadian-kejadian dimasa lalu yang menimbulkan perubahan dalam kehidupan manusia, kejadian-kejadian itu merupakan sebab akibat
    2. Metode sejarah adalah cara menangani bukti-bukti sejarah dan menghubungkannya serta memastikannya dengan bukti tentang asal-usul. Kemudian menarik penafsiran dengan bukti peristiwa masa lalu sehingga terlihat probabilitasnya.
    3. Kisah sejarah disusun dengan sistematis, berdasarkan tahun kejadian dan peristiwa yang mengawalinya.
    4. Kebenaran fakta sejarah diperoleh dari penelitian sumber sejarah yang dikumpulkan dengan menggunakan rasio.
    5. Kebenaran fakta sejarah adalah objektif, karena dalam menyusun kisah sejarah harus berdasarkan fakta yang ada.

Sebuah pengetahuan dapat disusun secara sistematis dengan cara menggunakan metode yang dimilikinya. Secara sederhana, metode dapat diartikan sebagai langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menjelaskan objek yang dikajinya.
Setiap ilmu pengetahuan memiliki objeknya. Objek sejarah adalah manusia, sehingga sejarah dimasukkan kedalam kelompok ilmu humaniora. Hasil dari penjelasan terhadap objek yang ditelitinya akan melahirkan rumusan-rumusan kebenaran yang disebut teori. Rumusan kebenaran dalam sejarah bersifat unik, tidak umum atau universal. Unik dalam pengertian bahwa kebenaran sejarah hanya berlaku pada situasi atau tempat tertentu saja, belum tentu berlaku pada situasi atau tempat yang lainnya. Revolusi dan pemberontakan sering kali terjadi dalam sejarah Indonesia. Akan tetapi, penyebabnya merupakan hal yang unik, selalu berbeda.
Ciri umum kebenaran ilmu pengetahuan, yaitu bersifat rasional, empiris, dan sementara. Rasional artinya kebenaran itu ukurannya akal. Sesuatu  dianggap benar menurut ilmu apabila masuk akal. Sebagai  contoh, kita mengenal adanya candi Borobudur yang megah. Secara akal dapat dijelaskan bahwa pembangunannya dilakukan oleh manusia biasa dengan menggunakan teknik teknik tertentu sehingga terciptalah sebuah bangunan. Janganlah kita menjelaskan bahwa Borobudur itu dibangun dengan menggunakan  kekuatan-kekuatan diluar kemampuan manusia, misalnya jin, sihir dan jenis-jenis makhluk lainnya.
Bersifat  empiris maksudnya bahwa sejarah melakukan kajian atas peristiwa yang benar-benar terjadi dimasa silam peristiwa itu akan didokumentasikan dan menjadi bahan penelitian para sejarawan untuk menemukan fakta. Fakta-fakta ini kemudian diinterpretasikan sehingga timbul tulisan sejarah. Jika kita bercerita tentang terjadinya perang, maka perang itu benar-benar pernah terjadi berdasarkan bukti-bukti peninggalan yang ditemukan. Atau kemungkinan masih adanya saksi hidup yang masih ada.
Sedangkan bersifat sementara maksudnya adalah bahwa dalam ilmu pengetahuan, kebenaran yang dihasilkan sifatnya tidak mutlak. Tidak seperti halnya kebenaran dalam agama yang bersifat mutlak. Kebenaran ilmu pengetahuan bersifat sementara, artinya dapat dibantah apabila ditemukan teori-teori baru. Dalam sejarah, kebenaran sementara ini dapat dalam bentuk perbedaan penafsiran terhadap suatu peristiwa. Perbedaan ini dapat diterima selama didukung oleh bukti yang kuat. Sifatnya yang sementara inilah yang membuat ilmu itu berkembang terus.
               

 

    1. Sejarah sebagai Seni

       
        Sejarah dikatakan sebagai seni sebab dalam rangka penulisan sejarah, seorang penulis memerlukan intuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa.
        Sejarawan memerlukan intuisi atau ilham, yaitu pemahaman langsung dan insting selama masa penelitian berlangsung. Seringkali dalam rangka memilih suatu penjelasan sejarawan juga memerlukan intuisi. Dalam hal ini cara kerja sejarawan sama dengan cara kerja seorang seniman. Walaupun demikian dalam menuliskan hasil karyanya sejarawan harus tetap berpijak kepada bukti dan data yang ada.
        Seorang sejarawan  harus dapat berimajinasi membayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada masa lampau. Misalnya dalam menuliskan cerita tentang perang Padri, ia harus dapat membayangkan bagaimana keadaan alam daerah Minangkabau, kehidupan masyarakatnya, adat istiadatnya sehingga dapat memahami mengapa didaerah tersebut kemudian timbul perang saudara.
        Dalam menulis sejarah, sejarawan dituntut untuk membawa si pembaca seolah-olah hadir dan menyaksikan sendiri peristiwa sejarah. Dalam hal ini sejarawan haruslah mempunyai emosi yang tinggi untuk menyatukan perasaan dengan objeknya. Sifat ini sangat penting untuk mewariskan nilai-nilai perjuangan.
        Penggunaan gaya bahasa juga diperlukan dalam penulisan sejarah. Gaya bahasa yang baik, bukan berarti yang berbunga-bunga. Terkadang bahasa yang lugas lebih menarik. Dalam tulisan sejarah, deskripsi itu seperti melukis naturalistis. Hal yang diperlukan adalah kemampuan untuk menuliskan detil.
        Seni satra dapat menyumbangkan karakteristik pada tulisan sejarah. Sejarawan  harus bisa menggambarkan watak manusia dalam descripsinya. Plot atau alur cerita diperlukan  juga dalam sejarah. Kisah  yang berangkai, dari pendahuluan, inti cerita dan penutup akan memberi nyawa pada kisah sejarah.
        Tokoh penganjur sejarah sebagai seni adalah George Macauly Travelyan. Dikatakannyta bahwa menulis sebuah kisah peristiwa sejarah tidak mudah karena memerlukan imajinasi dan seni. Menulis sejarah merupakan seni, filsafat, polemik, dan dapat sebagai propaganda. Dalam penulisan kisah sejarah, perlu menggunakan bahasa yang indah, komunikatif, menarik, dan isinya mudah dimengerti. Oleh karena itu, diperlukan seni dalam penulisannya. Seorang penulis sejarah harus bersedia menjadi ahli seni yang menghidupkan kembali kisah kehidupan masa lampau untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Dengan demikian, selain unsur ilmiah yang terdapat dalam sejarah, juga terdapat unsur seni.

  1. PERIODISASI DAN KRONOLOGI

 

Sejarah merupakan ilmu yang mempelajari manusia dalam konteks waktu. Dalam kehidupannya, manusia terikat oleh ruang dan waktu. Ada masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Ketiganya menunjukan adanya keseimbangan. Masa lalu akan menentukan masa sekarang, dan masa sekarang menentukan masa depan. Untuk memudahkan memahami konsep waktu maka dibuatlah periodisasi dan kronologi dalam sejarah.

    1. Periodisasi.

       
        Untuk memudahkan  mengetahui bagaimana kehidupan manusia dalam rentang waktu dibuatlah periodisasi. Maksud dari periodisasi adalah semacam rangkain serial  menurut urutan zaman.
        Periodisasi dibuat dengan tujuan agar dapat diketahui ciri khas atau karakteristik kehidupan manusia sehingga mudah dipahami. Dalam periodisasi ini akan diketahui :

      1. perkembangan kehidupan manusia
      2. kesinambungan antara periode yang satu dengan periode berikutnya.
      3. terjadinya fenomena yang berulang
      4. perubahan dari periode yang awal sampai pada periode berikutnya

                        Perkembangan terjadi bila berturut-turut masyarakat bergerak dari satu bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks. Kesinambungan terjadi bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi lembaga-lembaga lama.
                        Pengulangan yang dimakud disini adalah adanya fenomena yang berulang, bukan peristiwa yang berulang. Sebab peristiwa itu terjadi hanya satu kali. Perubahan terjadi bila masyarakat  mengalami pergeseran, sama dengan perkembangan. Akan tetapi asumsinya adalah adanya perkembangan besar-besaran dan dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya perubahan itu terjadi karena pengaruh dari luar.
                        Penyusunan periodisasi bergantung pada jenis sejarah yang akan ditulisnya. Periodisasi dapat disusun berdasarkan perkembangan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, agama, dan sebagainya. Setiap penulis sejarah bebas dalam menetapkan periodisasi, bergantung pada pendiriannya. Periodisasi perkembangan politik akan menyangkut periodisasi kerajaan-kerajaan kuno atau dinasti. Misalnya, kerajaan–kerajaan kuno di Indonesia mulai dari kerajaan Hindu-Buddha sampai kerajaan Islam.
                        Periodisasi berdasarkan sosial ekonomi misalnya melihat perkembangan kehidupan manusia mulai dari masa berburu mengumpulkan makanan, menanam, berkebun atau bersawah, sampai dengan masa produksi. Pada setiap periode tersebut memiliki karakteristiknya.
                        Contoh periodisasi sejarah Indonesia berdasarkan hasil kebudayaan :


Zaman

Hasil kebudayaan

Cara hidup

Jenis Manusia

Palaeolithikum

Budaya Pacitan

    1. Kapak Penetak (Chopper)
    2. Kapak Perimbas

Budaya Ngandong

    1. Alat-alat tulang dan tanduk rusa
    2. Flakes (alat-alat yang terbuat dari batu-batu kecil)
    1. Food gathering awal (berburu, menangkap ikan, mengumpulkan keladi, ubi dan buah-buahan)
    2. Nomaden
    3.  
    1. Pithecantropus
    2. Sinanthropus Pekinensis
    3. Homo Wajakensis
    4. Homo Soloensis
    5. Pithecantropus Erectus
    6. Pithecantropus Robustus
    7. Mojokertensis
    8. Megantropus PalaeoJavanicus

Mesolithic

Budaya Bacson Hoabin

    1. Kapak Sumatera/kapak genggam (Pebble Culture)
    2. Alat-alat tulang (Bone Culture)
    3. Flakes
    4. Kapak Pendek (Hache Courte)
    1. Food Gathering tahap lanjut
    2. Hidup semi nomaden (sebagian sudah menetap dan sebagian lagi masih mengembara)
    3. Abris sous roche
    4. Kjokkenmoddinger

Papua Melanesoide

    1. suku Irian
    2. suku Sakai     (Siak)
    3. suku Atca
    4. suku Aborigin
    5. suku Semang

Neolithikum

    1. Kapak Lonjong
    2. Kapak Bahu
    3. Kapak persegi
    4. Tembikar
    5. Barang-barang perhiasan
    1. Masa Food Producing
    2. Bercocok tanam
    3. Nelayan
    4. Beternak

Proto Melayu

    1. Nias
    2. Toraja
    3. Sasak
    4. Dayak

Megalithikum

Kebudayaan Dongson

    1. Dolmen
    2. Kubur batu
    3. Arca
    4. Manik-manik
    5. Menhir
    6. Punden berundak-undak
    7. Sarkofagus
    1. Food Production
    2. Tempat tinggal menetap
    3. Bercocok tanam
    4. Beternak
    5. Nelayan
    6. Membuat gerabah
    7. Rumah panggung

Proto Melayu

    1. Nias
    2. Toraja
    3. Sasak
    4. Dayak

 

    1. Kronologi

Kronologi sejarah merupakan urutan peristiwa sejarah yang terjadi berdasarkan urutan waktu. Pada masa lalu ada kebiasaan untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan pemerintahan. Peristiwa itu misalnya proses awal berdirinya suatu kerajaan, penaklukan terhadap daerah lain dalam rangka perluasan wilayah, pemberian sedekah, kunjungan tamu dari luar kerajaan dan lain-lain. Pencatatan itu biasanya lebih banyak menonjolkan peran dari kerajaan atau rajanya. Catatan peristiwa-peristiwa penting itu disebut kronik.
Pada masa sekarang salah satu lembaga yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap tradisi penulisan peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan peran dirinya adalah TNI. Banyak sekali sejarah yang ditulis  TNI berkaitan dengan peran dirinya, mulai dari proses pendirian sampai dengan perannya dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjaga kedaulatan negara. Penulisannya itu bersifat kronologis, mulai dari yang paling awal sampai yang terbaru.

 

  1. KEGUNAAN SEJARAH

Sejarah sebagai ilmu tidak ada gunanya jika tidak bermanfaat bagi manusia. Kegunaan sejarah secara sempit dapat dirasakan dalam bidang pengajaran. Sejak dari taman kanak-kanak sampai sekolah lanjutan, bahkan sekolah tinggi, para siswa diberi pelajaran sejarah. Pada setiap tingkat pendidikan, pengajarannya disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak didik. Ditingkat pendidikan dasar cenderung bersifat sebagai hafalan, disekolah lanjutan pada sifat pengertian, sedangkan di pendidikan tinggi ditekankan pada sifat kritik dan analisis.
Diluar pengajaran, sejarah mempunyai kegunaan yang luas dan mendalam. Beberapa kegunaan sejarah antara lain :

  1. Bersifat edukatif

Kita sering mendengar ungkapan “belajar dari sejarah”, “belajarlah dari pengalaman”, “sejarah mengajarkan kepada kita”, “Historia Vitae Magistra” (Sejarah adalah guru kehidupan) dan ungkapan lain. Ungkapan tersebut mengandung arti bahwa sejarah memberi pelajaran bagi kehidupan manusia. Banyak nilai-nilai berharga yang dapat kita petik dari pelajaran sejarah, seperti kebenaran, keadilan, kejujuran, kearifan, keberanian, rela berkorban, dan lain-lain. Jadi sejarah banyak mengajarkan moral.
Peristiwa masa lalu tidak sedikit memberikan pelajaran tentang menegakkan kebenaran dan keadilan. Ketika bangsa kita dijajah, banyak terjadi perlawanan yang dilakukan oleh para pejuang dalam menegakkan kebenaran untuk melepaskan diri dari kekuasaan bangsa lain dan mendirikan sebuah negara yang bebas. Perjuangan yang mereka lakukan tidaklah sia-sia. Indonesia menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Apa yang mereka perjuangkan dimasa lalu memiliki nilai-nilai luhur dan dapat menjadi cermin kehidupan bagi kita sekarang.
Pada masa kekuasaan raja-raja, kita dapat belajar dari bagaimana raja-raja itu memerintah. Ada raja yang memerintah dengan adil, dihormati oleh rakyatnya. Sehingga kerajaan yang dipimpinnya dapat berlangung dengan aman dan tidak mengalami kegoncangan pemerintahan. Akan tetapi tidak sedikit juga raja-raja yang memerintah secara sewenang-wenang, otoriter dan menyengsarakan rakyat. Pemerintahan demikian akan menimbulkan pemberontakan dan perebutan kekuasaan. Raja-raja  yang tidak adil sering berakhir dengan tragis. Gambaran seperti itu sampai sekarang masih sering terjadi. Sehingga sering kita mendengar adanya usaha kudeta untuk menggulingkan pemerintahan yang demikian.
Kejujuran adalah nilai-nilai yang juga diajarkan dalam sejarah. Ketidakjujuran akan berakibat tatanan kehidupan menjadi rusak. Beberapa peristiwa sejarah yang menggambarkan akibat dari ketidakjujuran, misalnya intrik-intrik politik dalam keluarga kerajaan. Hubungan keluarga kerajaan atau aparat yang tidak harmonis sering menimbulkan saling fitnah dan isyu untuk saling menjatuhkan. Akibatnya adalah timbulnya krisis politik sampai akhirnya menyebabkan kehancuran kerajaan. Hancurnya kerajaan akan berakibat juga pada kehidupan masyarakat.
Tegaknya suatu cita-cita harus ditunjang oleh adanya jiwa keberanian berbuat yang dapat dipertangggunggjawabkan. Keberanian adalah nilai-nilai yang dapat menjadi modal bagi tegaknya cita-cita. Masyarakat yang memiliki keberanian yang tinggi akan menjadi bangsa yang maju.
Nilai-nilai rela berkorban pun  banyak diajarkan. Perjuangan  bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekan banyak menunjukan adanya jiwa rela berkorban. Dengan nilai rela berkorban ini menjadi salah satu kekuatan terciptanya kemerdekaan Republik Indonesia.

  1. Kegunaan Inspiratif

Berbagai kisah sejarah dapat memberikan inspirasi pada pembaca dan pendengarnya. Belajar dari kebangkitan nasional yang dipelopori  oleh berdirinya Budi Utomo sebagai organisasi perjuangan yang modern, masyarakat Indonesia sekarang berusaha mengembangkan kebangkitan nasional kedua. Pada kebangkitan nasional pertama, bangsa Indonesia berusaha merebut kemerdekaan yang sekarang ini sudah dicapainya.
Untuk mengembangkan dan mempertahankan kemerdekaan, bangsa Indonesia ingin melakukan kebangkitan nasional kedua dengan bercita-cita mengejar ketertinggalannya dari bangsa lain. Bangsa Indonesia tidak hanya ingin merdeka, tetapi juga ingin menjadi bangsa yang maju dan mampu mensejahterakan rakyatnya. Untuk itu bangsa Indonesia sekarang harus giat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui iptek yang dikuasainya, bangsa Indonesia berpeluang menjadi bangsa yang maju dan disegani serta dapat ikut menjaga ketertiban dunia.
Dalam kebangkitan umat, para pemimpin Islam juga dapat menjadikan peristiwa  masa lampau sebagai inspirasi. Dalam masa sekarang umat Islam diajak untuk dapat kembali bangkit sebagai pemenang dalam mengarungi kehidupan dunia. Berbagai usaha untuk meningkatkan sumber daya manusia dilakukan dimana-mana, seperti pengembangan lembaga pendidikan diberbagai pesantren dan mendirikan beberapa lembaga keuangan yang tidak diharamkan oleh agama.
Kejayaan Islam pada masa lampau, terutama sebelum bangsa Eropa mengalami Renaissance, diusahakan untuk membangkitkan kepercayaan diri sebagian umat yang masih terkagum-kagum dengan bangsa maju non muslim. Umat Islam dapat menjadi bangsa yang maju itu pernah dibuktikan dalam sejarah.

  1. Kegunaan Rekreatif

 

Kegunaan lain dari sejarah adalah kegunaan rekreatif. Kegunaan sejarah sebagai kisah dapat memberi suatu hiburan yang segar. Melalui penulisan kisah sejarah yang menarik pembaca dapat merasa terhibur. Gaya penulisan yang hidup dan komunikatif dari para sejarawan terasa mampu menghipnotis pembaca. Konsekuensi rasa senang dan daya tarik penulisan sejarah tersebut pembaca merasa senang. Membaca menjadi media hiburan dan rekreatif. Membaca telah menjadi bagian dari kesenangan, dan dirasakan sebagai kebutuhan.
Pembaca tulisan sejarah tidak hanya merasa senang layaknya membaca novel, tetapi juga dapat berimajinasi kemasa lampau. Disini sejarawan dapat menjadi pemandu atau guide. Orang yang ingin melihat situasi suatu daerah dimasa lampau dapat membacanya dari hasil penulisan para sejarawan.
Melalui proses rekreasi terhadap berbagai peristiwa sejarah dimasa lampau memungkinkan orang untuk bercermin diri. Orang yang pesimis dapat diajak menjadi optimis dengan ditunjukan akan masa depan umat manusia yang masih terbuka. Peristiwa masa lampau memang sudah berlalu, tetapi yang lampau itu masih berpengaruh terhadap kehidupan sekarang sehingga orang dapat mengambil suatu kebijakan untuk kepentingan sekarang dan masa depan. Disinilah pentingnya  pembelajaran dengan menggunakan suatu strategi termasuk dalam belajar sejarah. Belajar tidak hanya sekedar bagaimana kita belajar, melainkan  juga bagaimana belajar untuk belajar itu sendiri.

 

 

 

Webdesign service by Sarkis. Outsourcing by FreelanceWebmarket.