....

Yuni Septiani. S.Pd.

 

 

SEJARAH

July 19th, 2008 by Yuni Septiani, S.Pd

BAB 1 ------ BAB 2 ----- BAB 3 ----- BAB 4

 

 

BAB. 2

TRADISI SEJARAH DALAM MASYARAKAT INDONESIA MASA PRA AKSARA

        1. JEJAK SEJARAH MASA LAMPAU

 

1. Peristiwa Sejarah
Peristiwa sejarah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat akan memberikan pengaruh pada kehidupan masyarakat tersebut. Peristiwa tersebut dapat memberikan pengaruh positif atau negatif. Pengaruh positif suatu peristiwa sejarah akan membawa perubahan kearah kemajuan, kebaikan, atau semangat pada kehidupan masyarakat. Misalnya peristiwa proklamasi kemerdekaan, peristiwa tersebut membawa pengaruh positif karena menyatakan bahwa bangsa Indonesia telah terbebas dari berbagai macam bentuk penindasan dan penjajahan. Bangsa Indonesia dapat hidup bebas dan merdeka tanpa tekanan  atau kekangan dari bangsa lain.
Pengaruh negatif suatu peristiwa sejarah akan menyebabkan tumbuhnya keresahan, kekecewan, ketidakpercayaan, atau kegelisahan dalam kehidupan masyarakat. Misalnya jatuhnya rezim orde baru pada tahun 1998. Peristiwa ini menimbulkan pengaruh negatif, karena kehidupan bangsa Indonesia menjadi tidak menentu, ditambah dengan krisis moneter yang berpengaruh besar pada kehidupan ekonomi  rakyat.
Dengan demikian, pengaruh positif atau negatif yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa sejarah, tergantung kepada latar belakang atau sebab-sebab terjadinya suatu peristiwa bersejarah.

  1. Peninggalan Sejarah

Diberbagai daerah di Indonesia banyak ditemukan peninggalan sejarah berupa fosil, kapak batu, lukisan pada dinding gua, alat-alat dan senjata dari batu dan tulang, berbagai perhiasan dari tembaga, perunggu, kuningan, perak atau emas dan peninggalan berupa bangunan.
Peninggalan sejarah dari zaman pengaruh Hindu-Budha di Indonesia banyak meninggalkan peninggalan berupa candi,  seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan lain-lain. Dan juga berupa prasasti, seperti prasasti dari kerajaan Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya. Prasasti-prasasti tersebut menjadi bahan penelitian bagi para sejarawan untuk merekonstruksi masa lampau.
Peninggalan sejarah dari zaman pengaruh agama Islam di Indonesia dari abad ke-7 sampai abad ke-18 hanya berupa makam dan bangunan mesjid. Seperti makam para Walisanga, mesjid Banten, atau makam orang-orang yang menyebarkan agama Islam, serta seni kaligrafi.

  1. Monumen Peringatan Peristiwa Sejarah

Selain adanya peninggalan sejarah, ada pula bentuk peninggalan untuk memperingati suatu peristiwa sejarah. Peninggalan ini berupa bangunan yang dibuat agar orang-orang yang hidup setelah terjadinya peristiwa sejarah itu dapat mengenang dan memperingati semangat  dan nilai-nilai perjuangannya. Misalnya, monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya di Jakarta dibangun untuk mengenang para pahlawan revolusi pada saat mempertahankan ideology Pancasila. Monumen tugu Pahlawan di Surabaya dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah rela berkorban mempertahankan kemerdekaan dari usaha sekutu yang ingin mengembalikan imperialisme. Dan Tugu Muda di Semarang dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang.

 

B. TRADISI  SEJARAH PADA MASYARAKAT SEBELUM MENGENAL TULISAN

  1. Cara Masyarakat yang belum Mengenal Tulisan Mewariskan Kebudayaannya.

 

Zaman ketika masyarakat Indonesia belum mengenal tulisan disebut zaman pra sejarah. Zaman ini berlangsung sejak manusia ada sampai manusia mulai mengenal tulisan. Masyarakat prasejarah meninggalkan benda-benda kebudayaan dan mewariskannya kepada anak cucunya, yaitu berupa alat-alat dari batu, tulang, logam, dan lain-lain. Oleh karena jaman itu belum mengenal tulisan, maka kehidupan mereka hanya dapat diteliti dengan cara merekonstruksi cara hidupnya berdasarkan benda-benda peninggalan tersebut.
Pada masa hidup berpindah-pindah/nomaden masyarakat prasejarah menggunakan kapak perimbas (chopper) dan kapak penetak (Chopping tool). Alat-alat ini banyak ditemukan di Pacitan, Bengkulu, Awangbangkal (Kalimantan), Cabbenge (Sulawesi) dan Lahat (Sumatera). Selain itu juga digunakan flakes (serpih) yang ditemukan di Jawa, Sulawesi Selatan dan Timor. Dan alat dari tulang yang ditemukan di Ngandong, Ngawi, gua Sampung. Diperkirakan masyarakat pada masa ini tidak hanya hidup berburu, tetapi juga sudah bercocok tanam.
Ketika bangsa Proto Melayu masuk ke Indonesia dari daratan Asia, masuk pula kebudayaan baru. Kebudayaan itu oleh Madame Madelene Colani disebut sebagai kebudayaan Bacson-Hoabinh. Peralatan dari kebudayaan ini  antara lain kapak persegi (kapak bahu), beliung persegi, pebble (kapak Sumatera), kapak genggam, dan kapak lonjong, juga batu serpih, gerabah dan perhiasan. Kemudian masuk pula gelombang migrasi bangsa Deutro Melayu sekitar 400 – 300 SM dengan membawa kebudayaan Dongson. Mereka sudah mampu membuat alat-alat dari logam, antara lain nekara, kapak corong, dan arca perunggu. Selain itu juga ada perhiasan perunggu, benda besi, dan manik-manik. Karena pada masa ini masyarakat sudah  mengenal alat-alat dari logam, maka disebut pula zaman logam.

  1. Tradisi Sejarah Masyarakat Prasejarah

 

Kata tradisi berarti kabar atau penerusan. Hal yang dikabarkan atau diteruskan biasanya berasal dari masa lampau berupa adat istiadat, bahasa, tata kemasyarakatan, keyakinan dan sebagainya, atau berupa proses penyerahan atau penerusan pada generasi berikutnya. Tradisi dipahami juga sebagai adat istiadat/kebiasaan turun temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan didalam masyarakat.
Pengetahuan masyarakat yang belum mengenal tulisan diperoleh dengan cara mendengar, melihat, meniru, dan melakukan (learning by doing). Ini disebut pengalaman belajar. Dengan cara ini mereka memiliki keterampilan yang tidak akan mereka lupakan seumur hidupnya. Dan kemudian keterampilan ini mereka wariskan kepada keturunannya dan akhirnya sampai kepada kita sekarang.
Sebagai gambaran, kita perhatikan ilustrasi berikut.
Pada masyarakat nomaden, mereka hidup berpindah-pindah mencari tempat yang banyak menyediakan sumber makanan. Suatu hari mereka meninggalkan biji-bijian dari buah yang mereka makan. Setelah beberpa hari kemudian mereka kembali ketempat itu dan menemukan bahwa biji-bijian yang mereka buang dulu telah berubah menjadi tunas/kecambah dan akhirnya menjadi tanaman. Kejadian ini menimbulkan pemikiran bahwa biji-bijian  dapat dibudidayakan oleh manusia. Setelah dipraktekan ternyata memperoleh keuntungan-keuntungan. Pengalaman ini kemudian mereka sampaikan kepada kerabatnya sehingga menyebar dari mulut-kemulut
Peristiwa atau kejadian yang terjadi pada masyarakat yang belum mengenal tulisan itu tentu tidak dituliskan, tetapi lebih banyak dituturkan lewat lisan. Penuturan atau cerita lisan tersebut akan terus menerus diceritakan dari mulut kemulut, dari generasi ke generasi sehingga menjadi suatu tradisi atau tradisi lisan.
Tradisi lisan merupakan cara yang dilakukan oleh masyarakat yang belum mengenal tulisan dalam merekam dan mewariskan pengalaman masa lalu dari masyarakatnya. Perekaman dan pewarisan ini menjadi kebudayaan yang dimiliki oleh pendukung tradisi tersebut. Sebagai suatu aspek budaya, maka kepentingan untuk menjelaskan atau memahami lingkungan sekitar itu adalah sekaligus sebagai usaha memberi pegangan pada masyarakat terutama generasi berikutnya dalam menghadapi berbagai kemungkinan dari lingkungan itu. Dalam hal ini tradisi lisan berfungsi sebagai mnemonik, yaitu usaha untuk merekam, menyusun dan menyimpan pengetahuan demi pengajaran dan pewarisannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi masyarakat yang belum mengenal tulisan, pengalaman masa lalu berfungsi bukan hanya sebagai pengetahuan belaka, tetapi juga sebagai pegangan atau pedoman bagi kehidupannya. Bahkan masyarakat pendukung tradisi lisan tersebut lebih mementingkan retorika ceritanya dari pada kebenaran faktanya. Hal yang mereka pentingkan adalah nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi pegangan atau pedoman hidupnya. Nilai-nilai yang terkandung tersebut misalnya keteladanan, kejujuran, keberanian, kekeluargaan, penghormatan terhadap leluhur, kecintaan, kasih sayang dan lain-lain.
Pewarisan tradisi sejarah pada masyarakat yang belum mengenal tulisan dilakukan dengan cara memberi suri tauladan. Tindakan atau perbuatan yang menyangkut tradisi sejarah dicontohkan dalam kehidupan mereka agar ditiru dan diikuti. Tak cukup hanya memberi contoh, juga diwariskan dengan cara mengikutsertakan dan melibatkan generasi penerusnya dalam segala kegiatan kehidupannya. Generasi  muda diajak secara bersama-sama menjalankan kehidupan yang berkebudayaan. Kepada mereka dititipkan pesan agar menjaga dan menjunjung tinggi tradisi sejarah nenek moyangnya. Dengan demikian tradisi tersebut akan berlanjut dari genersi ke generasi.

  1. KLASIFIKASI  JEJAK SEJARAH

 

Pada masyarakat yang belum mengenal tulisan, sejarah dapat diperoleh dengan cara menelusuri kebenaran dalam jejak sejarah peristiwa masa lampau. Klasifikasi jejak sejarah dapat berupa folklore, mitologi, legenda, upacara dan lagu.

1. Folklore.
Folklore merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata dasar folk dan lore. Folk berarti sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok sosial lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan, dan agama yang sama.
Dan kata lore  merupakan tradisi dari folk, yaitu sebagian kebudayaan yang diwariskan secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device).
Dengan demikian folklore dapat diartikan sebagai bagian dari kebudayaan yang disebarkan dan diwariskan secara tradisional, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Atau, folklore merupakan adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan turun temurun tetapi tidak dibukukan.
Folklore adalah budaya kolektif. Budaya tersebut memiliki ciri-ciri yang dapat membedakan dengan kebudayaan lainnya, yaitu :

      1. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan melalui tutur kata dari mulut ke mulut dengan suatu contoh yang disertai gerak isyarat atau alat pembantu pengingat dari satu generasi ke generasi berikutnya.
      2. Bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar dan dalam tempo yang cukup lama.
      3. Berkembang dalam versi dan varian yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena penyampaiannya  secara lisan sehingga mudah mengalami perubahan.
      4. Bersifat anonim, artinya pembuatnya sudah tidak dikenal.
      5. Mempunyai pola klise karena meniru yang telah ada (mimetis) atau melanjutkan yang sudah menjadi kebiasaan.
      6. Mempunyai kegunaan antara lain mendidik, protes sosial, kritis terhadap apa yang ada dalam masyarakat, pelipur lara, dan cerminan keinginan yang terpendam.
      7. Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Dan karena tidak logisnya ini maka orang mudah tertarik dan merasa senang.
      8. Menjadi milik bersama dari masyarakat tertentu.
      9. Bersifat polos dan lugu

Seorang ahli folklore  Amerika Serikat, Jan Harold Brunvand, membagi folklore kedalam tiga golongan besar berdasarkan tipenya, yaitu :
1.  Folklore Lisan (Facta Mental) yang meliputi :

  1. Bahasa rakyat seperti logat bahasa (dialek), slang, bahasa tabu, onomatis.
  2. Ungkapan tradisional seperti peribahasa dan sindiran
  3. Pertanyaan tradisional yang dikenal sebagai teka-teki.
  4. Sajak dan puisi rakyat, seperti pantun dan syair.
  5. Cerita prosa rakyat seperti mite (myth), legenda (legend), dan dongeng (Folktale).
  6. Nyanyian rakyat
    1. Folklore sebagian lisan (sosiofact), meliputi :
      1. Kepercayaan dan takhayul
      2. Permainan dan hiburan rakyat setempat
      3. Teater rakyat (lenong, reog, ketoprak)
      4. Tari rakyat
      5. Adat kebiasaan
      6. Upacara tradisional (tujuh bulanan, turun tanah)
      7. Pesta rakyat tradisional

 

    1. Folklore bukan lisan (artifact) meliputi :
      1. Arsitektur bangunan rumah
      2. Seni kerajinan tangan tradisional
      3. Pakaian tradisional
      4. Obat-obatan tradisional
      5. Alat-alat musik tradisional
      6. Peralatan dan senjata tradisional
      7. Makanan dan minuman tradisional

Folklore mempunyai empat fungsi, yaitu :

  1. sebagai system proyeksi yaitu sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif
  2. sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan
  3. sebagai alat pendidik anak
  4. sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.

2. Mite atau Mitologi.
Adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang memiliki cerita. Tokoh mite adalah para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwanya terjadi didunia lain. Mite pada umumnya mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam, dan sebagainya. Mitologi juga mengisahkan petualangan para dewa. Contoh mitologi Yunani yang menganggap Dewa Zeus sebagai kepala para dewa yang berkedudukan di Bukit Olimpus. Untuk menghormatinya dibuatkan bangunan Parthenon, dan juga diadakan pesta olah raga yang sampai sekarang dikenal sebagai pesta olahraga Olimpiade.
Cerita tentang hal yang berbentuk mite pada setiap daerah terkadang ada yang sama dan ada pula yang hanya dimiliki satu daerah tertentu. Contohnya, cerita tentang asal mula terjadinya beras yang dikaitkan dengan cerita Dewi Sri. Walaupun tokohnya sama, tetapi jalannya cerita terkadang berbeda-beda.

3. Legenda
Legenda merupakan cerita rakyat yang memiliki  ciri-ciri :

    1. Oleh sipemilik cerita dianggap sebagai suatu kejadian yang benar-benar pernah terjadi.
    2. Berbeda dengan mitologi, legenda bersifat keduniawian
    3. Sering dipandang sebagai sejarah kolektif
    4. Bersifat migration, dapat berpindah-pindah sehingga dikenal luas didaerah yang berbeda-beda.
    5. Tersebar dalam bentuk pengelompokan yang disebut siklus, yaitu sekelompok cerita yang berkisar pada suatu tokoh atau kejadian tertentu.

Legenda adalah cerita rakyat zaman dahulu yang ada hubungannya dengan sejarah. Tokohnya bukan lagi para dewa, melainkan manusia biasa sehingga sifat sakralnya berkurang. Karena legenda sering disertai dengan barang bukti, banyak daerah memiliki legenda yang ceritanya berbeda-beda, namun polanya sering sama. Misalnya yang berkaitan dengan cerita mas kawin yang harus disiapkan pria pelamar dalam tempo satu malam. Seperti cerita Gunung Tengger (Jawa Timur), Roro Jonggrang (Jawa Tengah), Sangkuriang (Jawa Barat), dan Istana Muara Jambi (Jambi).
Ada beberapa macam legenda, diantaranya adalah legenda alam gaib yang biasanya merupakan kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang. Legenda semacam ini berfungsi memperkokoh “takhayul” atau kepercayaan rakyat. Biasanya banyak menyangkut tempat yang memberi kesan angker. Misalnya “Si Manis Jembatan Ancol” atau kepercayaan terhadap adanya hantu, genderuwo, kuntilanak, dan sundel bolong.
Legenda keagamaan yang berkaitan dengan agama. Contohnya tentang asal mula jakun yang dimiliki setiap pria. Dikisahkan bahwa ketika Nabi Adam memakan buah Kuldi yang terlarang ketahuan oleh Tuhan sehingga ia tercekik dan buah kuldinya itu tersangkut dileher. Atau cerita tentang orang-orang saleh dan penyebar agama Islam di Jawa yang dikenal sebagai Wali Sanga. Mereka  dianggap sebagai orang-orang suci yang memiliki kesaktian dan kelebihan  dibandingkan dengan manusia biasa pada umumnya.
Legenda setempat, berhubungan dengan tempat tertentu, baik nama maupun topografinya. Misalnya cerita tentang Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Dikisahkan tentang cinta Sangkuriang terhadap seorang putri yang bernama Dayang Sumbi, yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Karena Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkurian adalah anaknya, maka ia meminta Sangkuriang untuk membuat sebuah perahu besar dalam waktu semalam. Karena waktunya tidak terpenuhi, Sangkuriang marah dan menendang perahu yang belum selesai itu sehingga tertelungkup. Maka, jadilah Gunung Tangkuban perahu.
Contoh lain dari legenda setempat adalah asal mula nama kota Pandeglang, yang berasal dari kata Pandai Gelang (tempat orang-orang yang ahli membuat gelang). Atau nama Balaraja, yang berasal dari kata Bale Raja (tempat peristirahatan raja).
Legenda perseorangan menyangkut tokoh-tokoh tertentu yang disusun oleh pemilik cerita sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi. Pada umumnya merupakan saduran yang sudah beraneka ragam. Misalnya cerita “Si Pitung dari Betawi” seorang dari lapisan bawah yang membela rakyat  kecil terhadap kekuasaan Kolonial.

4. Dongeng
Dongeng adalah cerita rakyat yang  dianggap tidak benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan nasehat, kebenaran, pelajaran, atau sindiran. Dongeng digolongkan dalam dongeng binatang, dongeng manusia, dan dongeng lucu.
Dongeng binatang (fabel) adalah dongeng yang tokoh utamanya adalah binatang. Tokoh binatang tersebut dapat berbicara dan berakal budi seperti manusia. Misalnya tokoh si Kancil, si Kera, dan lain-lain. Fabel di Jawa dan Bali disebut Tantri.
Dongeng yang tokohnya manusia disebut dongeng manusia. Pada umumnya berkisar tentang cerita suka duka seseorang. Dibeberapa tempat cerita dongeng manusia banyak terdapat persamaan. Misalnya cerita “Cinderella” dan “Bawang Merah dan Bawang Putih”, yang mengisahkan tentang seorang wanita yang dimusuhi oleh saudara dan ibunya sendiri. Atau cerita tentang anak durhaka, seperti “Malin Kundang” dari Sumatera Barat, “Si Boncel” dari Jawa Barat
Dan dongeng lucu, yaitu dongeng yang bersifat lelucon. Tokohnya biasanya adalah orang bodoh dan lugu, pandir, cerdik serta banyak akal. Misalnya cerita “Si Kabayan” dari Jawa Barat, “Pak Belalang” dari Melayu, “Pan Balangtamak” dari Bali, dan lain-lain.

5. Upacara.
Upacara adalah kegiatan yang dilakukan sehubungan dengan peristiwa yang pernah terjadi dan erat kaitannya dengan mitologi, legenda atau peristiwa penting yang berkaitan dengan manusia seperti kelahiran, pernikahan dan kematian. Peringatannya dteruskan secara berulang-ulang sehingga terpelihara secara turun temurun. Pemeliharaan yang demikian dimaksudkan untuk melestarikan jiwa peristiwa yang penting agar terwarisi oleh generasi berikutnya.
Dalam masyarakat yang belum mengenal tulisan, cerita-cerita tentang masa lalunya atau tentang asal usul sesuatu sering dijadikan kepercayaan. Apalagi jika cerita itu menampilkan seorang tokoh yang dianggap sakral. Masyarakat akan menghormati tokoh itu bahkan menyembahnya. Tokoh tersebut bisa berupa manusia yang memiliki kesaktian ataupun dewa. Bentuk penghormatan terhadap tokoh itu dengan jalan melakukan upacara.
Upacara merupakan bentuk perilaku masyarakat yang menunjukan kesadaran terhadap masa lalunya. Masyarakat menjelaskan tentang masa lalunya melalui upacara. Melalui upacara kita dapat melacak asal-usul baik itu tempat, tokoh, sesuatu benda, kejadian alam dan lain-lain.
Misalnya ketika manusia melihat kejadian alam berupa petir yang menyambar pohon sehingga menyebabkan kebakaran, maka timbul anggapan bahwa ada sesuatu yang memiliki kekuatan. Sesuatu itu disebutlah sebagai dewa petir. Dan untuk menghormatinya dilakukanlah upacara pemujaan.
Atau seperti yang terjadi pada masyarakat yang memuja dewa matahari sebagai penguasa tertinggi. Untuk menghormatinya dibangunlah suatu monumen sebagai tempat upacara. Contohnya, Obelisk di Mesir.

 

                    
6. Lagu
Lagu yang dimaksud adalah nyanyian yang telah lama keberadaannya dan berkaitan dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh rakyat kecil sehingga disebut nyanyian rakyat (folksong). Dalam nyanyian rakyat, kata-kata dan lagu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Akan tetapi, teks yang sama tidak selalu dinyanyikan dengan lagu yang sama. Sebaliknya, lagu yang sama sering digunakan untuk menyanyikan beberapa teks nyanyian rakyat yang berbeda. Nyanyian rakyat memiliki perbedaan dengan nyanyian lainnya, seperti lagu pop atau klasik. Hal ini dikarenakan sifatnya yang mudah berubah dan tidak kaku, baik bentuk maupun isinya.
Lagu anak-anak pada umumnya digunakan untuk mengiringi tari atau permainan. Di Jawa Tengah dan Timur kita kenal lagu Cublak-cublak Suweng, Lir-ilir, Jamuran. Di Jawa Barat kita kenal Cing Cangkeling, Tokecang. Di Maluku dikenal lagu Waktu Hujan Sore. Dan di Kalimantan Barat lagu Cik-Cik Periuk.Rounded Rectangle: Contoh lagu daerah    Tokecang (Jawa Barat)    Tokecang tokecang   Balagendir tos blong  Angeun kacang angeun kacang  Sapependir kosong  Aya listrik di masigit  Meuni caang katingalna  Aya istri jangkung alit  Karangan dina pipina  Tokecang tokecang   Balagendir tos blong  Angeun kacang angeun kacang  Sapependir kosong    Waktu hujan sore (Maluku)    Waktu hujan sore-sore  Kulak sambar pohon kenari  E jo jaro deng mongare  Mari dansa dan menari  Pukul tiga toto buang   kata balimbing dikareta  Nona dansa dengan tuan  Jangan sindir nama beta  E…  menari   Sambil goyang badane  Menari lombo  Pegang lenso manise  Rasa ramai  Jangan pulang dulue
Peredaran nyanyian rakyat lebih luas dari pada lagu-lagu lain, dan umurnya pun lebih panjang. Hal ini dikarenakan penyebarannya melalui tradisi lisan, sehingga baik yang buta huruf atau pun yang melek huruf, kalangan atas maupun kalangan bawah menggunakannya.
Nyanyian rakyat mempunyai fungsi  sebagai pelipur lara, nyanyian jenaka, nyanyian untuk mengiringi permainan anak-anak, dan nyanyian untuk meninabobokan. Selain itu juga berfungsi sebagai pembangkit semangat, seperti nyanyian “Holopis Kuntul Baris”. Juga berfungsi sebagai pemelihara sejarah setempat, dan klan. Di Nias ada nyanyian rakyat yang disebut Hoho,  dipergunakan untuk memelihara silsilah klan besar orang Nias yang disebut Mado. Saman dan Seudati di Aceh yang bersifat religius. Dan  yang terakhir berfungsi sebagai protes sosial, mengenai ketidakadilan dalam masyarakat, negara bahkan dunia.
Nyanyian rakyat yang dapat dijadikan sebagai sumber penulisan sejarah adalah nyanyian yang bersifat mengisahkan, narative (folksong). Diantarnya Balada dan epos. Perbedaan antara Balada dan epos terletak pada tema ceritanya. Tema cerita balada berkenaan dengan kisah sentimental dan romantis, sedangkan epos mengenai cerita kepahlawanan. Namun keduanya mempunyai bentuk bahasa yang bersajak.nyanyian rakyat di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut Gending yang terbagi kedalam beberapa jenis seperti Sinom, pucung, dan Asmarandana.

 

Webdesign service by Sarkis. Outsourcing by FreelanceWebmarket.